Thursday, 24 November 2011

Great Grad Trip III: Awesomeness of Phuket Town

Here are great story about Phuket. Kita sampai di airport jam 7 malem dan kita udah ketinggalan bus terakhir menuju Phuket Town. Waktu lagi cari taksi kita dibawa ke Tour Agency yang nawarin paket keliling pulau kecil di Phuket, kayak Phi phi island, James Bond Island, dll dan bilang kalo di Phuket Town ga ada apa-apa yang bisa dilihat, setelah itu ada agency lain yang maksa kita naik minibus ketimbang taksi yang mengira kita orang Malaysia dan sok-sok kenal sambil ngomong bahasa melayu. (Sorry, Sir! Salah alamat!). Setelah dapet taksi, supirnya gabisa B. Inggris, maka bahasa tarzan kembali digunakan untuk menunjukkan tempat kita tinggal. The thing is, the driver was such an arsehole, he drove like crazy (angkot style), and he was rambling all the way. Jalan menuju Phuket Town super sepi (kayak jalan dari Ngurah Rai-Nusa Dua), gelap, supir ngebut dan ngomel dalam bahasa cacing, Nana tidur, untung Pepe masih terjaga. Sebagai antisipasi gw udah pegang HP, liat jalan, liat peta cari no. polisi, berdoa, dan mengingat nomor polisi taksi. Doa terkabul, kita pun sampai dengan selamat ke Sleep Sheep Hostel dengan selamat. Sesampainya disana kita disambut oleh front office berwujud laki-laki, berwajah bocah, bisa B. Inggris, ramah, bernama Peeraphat Singhon dengan panggilan Dear (oke dia tokoh legendaris di cerita ini) dan menjadi sahabat kita (baca: orang yang kita bully). Kita lega banget ada orang yang bisa diajak ngobrol di pulau antah berantah ini. Setelah bertanya tentang Phuket Town, apa yang bisa dilihat, dimakan, dilakukan disini (really making him confused), kita berangkat jalan-jalan sambil cari makan. Phuket Town ini semacam kota tua atau China town, kota ini sangat tenang, santai, peaceful, tempat yang sesuai setelah melewati hari penuh kehebohan di Pattaya.
Ybs. korban Bully dan baik hati
Clock Tower
Dear bilang kalo ada night market di daerah deket Robinson, yang gw kira semacam mal, dan tahukah saudara bahwa Robinson adalah Ramayana dept. store. Terdapat mcD, KFC, Black Canyon Coffee disini, tapi kita jalan terus mencari night market dan menemukan seruas jalan berisi tempat makan seafood. Sempet bingung karena mayoritas yang makan situ penduduk lokal, sampe akhirnya menemukan kios yang didatangi oleh bule yang menandakan bahwa kita bisa pesen makanan. Tak diduga waiter-nya berwujud seperti alay Indonesia dan sangat heboh ngajak ngobrol kita dan berulang kali bilang hot ke kita (salahkan Nana yang pesen Hot Thai Tea), sampe 2 pasang bule di sebelah ngeliatin. Sambil nunggu pesenan ada bapak-bapak pake sorban yang langsung gw kejar buat nanyain lokasi mesjid dan jadwal solat Idul Adha besok pagi. Bapak pertama gabisa B. Inggris, memanggil bapak kedua yang menjelaskan lokasi mesjid, dan memanggil bapak ketiga yang merupakan imam untuk sembahyang besok dan memberitahu waktu sembahyang besok adalah jam 8.
Keesokan harinya kita berangkat ke mesjid dengan celana jeans panjang, atasan rapi, dan pashmina. Kita sempet takut terlambat karena jalanan sepi banget dan gak ada takbiran, untung di ujung jalan kita melihat segerombolan mas-mas pake sarung dan ibu-ibu berkerudung bergegas menuju mesjid yang langsung kita ikutin. Keanehan mulai terjadi dimana semua orang ngeliatin kita, I mean, everybody is literally staring at us. Kita bertiga bingungapakah kita kentara banget bukan penduduk lokal, karena dari kemarin kita selalu dikira orang Thailand ataupun orang Filipina. Setelah masuk ke dalam mesjid ternyata semua wanita pake kerudung dan dress to kill dan full make up. We even saw a girl looked like Syahrini, with all the makeup, kaftan, and eyelashes. Setelah solat, begitu penceramah bicara (pake bahasa Thailand tentunya) semua orang langsung mulai ngobrol ribut banget. Sebelum ceramah selesai, beberapa orang udah mulai cabut dan Pepe pun mengajak kita cabut. Setelah berdiskusi bagaimana kita cabut tanpa diliatin semua orang, kita memutuskan untuk keluar mesjid dengan masih pake atasan mukena (Iya, semacam teteh-teteh pulang taraweh). Ternyata hal tersebut kurang berhasil karena semua orang masih ngeliatin kita, dan setelah 500 meter kita langsung membuka mukena di pinggir jalan (yang juga diliatin orang lewat).
Sleep Sheep Dorm
Setelah sarapan di Hostel, kita berkeliling Phuket Town dengan jalan kaki. Perjalanan dimulai dengan mengunjungi tourist information dan mengetahui bahwa tuktuk disini tidak memiliki rute tertentu (semacam taksi). Lalu kita mendatangi taman di Talang Rd. yang merupakan hadiah ulang tahun buat Yang Mulia Ratu pada tahun 2004. Tamannya bersih, tidak ada pedagang kaki lima, tuna wisma, dan sampah, bahkan ada fasilitas wifi di sini.
Beres foto-foto kita menyusuri Talang Rd. yang sangat menarik. Di sepanjang jalan ini terdapat book café/ coffee corner, tempat yang sangat cozy untuk sekedar ngobrol, baca buku, ataupun sekedar menikmati suasana. Bangunan di sepanjang jalan ini berdesain arsitektur Cina.
Tidak dapat membendung keinginan berfoto di depan bangunan dengan desain lucu, kita minta orang yang bertamu ke rumah itu untuk fotoin kita dan berbincang sedikit dengan dia sampai pemilik rumah keluar dan kebingungan kenapa ada 3 orang tidak dikenal ngobrol sama temennya di depan rumah.
Belum sampai ujung jalan, turunlah hujan badai tropis dimana payung yang sudah kita pinjam dari hostel tidak lagi berguna, akhirnya kita berteduh di depan rumah orang sampai anak pemilik rumah keluar dan kebingungan menemukan 3 orang asing jongkok di teras rumah dia dan ketika gw bilang “Sorry, we’re just waiting for the rain to stop” dan dia bengong, jawab “yes”, terus masuk rumah lagi, jelas sudah dia ga ngerti apa yang gw omongin. Nasib.
Karena hujan tidak kunjung reda maka kita memutuskan untuk menerabas badai tersebut dan melanjutkan perjalanan. Di ujung jalan Dibuk Rd. kita mencium wangi makanan yang membuat perut keroncongan, ternyata disitu ada gerai makanan. Untungnya disana ada satu pelayan yang bisa B. Inggris, daftar menu 80% mengandung babi, untung ada tom yam seafood dan prawn spring roll.
Sungguh enak menyantap makanan panas setelah basah hujan-hujanan. Setelah perut kenyang kita melanjutkan jalan keliling kota dan membeli oleh-oleh di kios cindera mata deket Robinson. Banyak sekali tempat-tempat menarik di kota ini, banyak temple, bangunan tua, museum, dan taman.
After an exhausting yet interesting day, we decided to came back early and having MAMA noodle as a dinner (mie ini ada loh di Bangkok Traffic Love Story). Sesampainya di hostel Dear nanya kenapa kita pulang cepet dan dia bilang ada reservasi dari Jakarta yang bakal dateng malem ini dan begitu tau ada kita, besoknya berencana join di dorm kita. Jam 8 malem si Pepe udah teller, gw sama Nana memutuskan untuk nonton DVD Hello Stranger di common room karena bosen. Pas kita turun ternyata Dear lagi nonton TV dan Nana nyuruh gw menyabotase TV buat nonton Hello Stranger.
Gw: Can we watch this DVD?
Dear: Oh yes, go ahead?
Gw: But you’re watching TV, right? Is that okay?
Dear: Oh, fine by me, I’ll just play with my computer.
Gw: There must be an English subtitle right?
Dear: I don’t know, I don’t think so (sambil ketawa-ketiwi)
Gw+Nana: WOT?! Ah, that’s okay, you can translate the whole conversation to us.
Dear: Bengong dan kemungkinan besar merasa terjebak.

Kita berhasil nyalain DVD, si Dear berakhir dengan ikut nonton sambil ngasih tau fun facts tentang film tersebut. Di tengah film, 2 cewek Jakarta yang tadi disebut Dear dateng dan mereka baru dari Singapore. Dunia sempit adalah ketika 2 cewek tersebut adalah teman dari kakak kelas kita di Jurusan, dan kita bertukar informasi tentang Singapore dan Thailand.
This is what I like about backpacking, you meet other people and make some friends.
To be continued: Sundress, Jeep, and Phuket Beaches

0 comments:

Post a Comment