We woke up early today, because today is beaches time! We were so excited. Setelah siap-siap dan sarapan, dimana kita ketemu 2 backpacker lain dari Perancis yang mukanya mirip model Agyness Deyn, kita pesen mobil buat dipake hari ini, yang kata front office hostel paling mobilnya Soluna atau Corolla manual. Gw sama Nana langsung bilang, “AKH, CETEK!”. Namun alam semesta berkata lain, dimana semua mobil sudah disewa dan yang tersisa hanyalah satu mobil Jeep yang tanpa pikir panjang langsung kita ambil. Let me get this straight here, Nana has a driving license, my driving license just got expired, and Pepe didn’t want to drive here. Yang berujung dengan keputusan kalo Nana capek akan gw gantikan dimana gw pegang SIM dan paspor Pepe, serta berharap mata polisi Thailand picek semua sehingga mengira gw adalah Pepe. Maka berangkatlah kita menuju Patong beach sesuai peta dan arahan yang diberikan Dear kemarin malam. Ternyata Jeep yang kita pinjam sejenis mobil steering by power (bukan power steering), jalanan menuju pantai harus melewati bukit berliku, namun ini merupakan awal petualangan.
Time to Time Jeep: steering by power
Menurut Dear, Patong beach tidak terlalu bagus tapi lebih ramai pengunjung dan lebih hip. Sesampainya di pantai, memang benar pantai ini sangat hip, ramai bule-bule berjemur dan main water sport, tapi pantainya super biasa. Pantai ini termasuk pantai tenang yang jenis ombaknya bercanda.
Setelah puas main air (baca: kelaperan) kita makan McD dan melanjutkan perjalanan menuju Karon Beach. Pantai ini lebih sepi dari Patong, tapi lebih bagus, bersih, dan ombaknya besar. Singkat kata lebih seru buat main air. Gw dan Nana asik main ombak dan mengeluarkan suara aneh sampe 2 jam bareng segerombolan muda mudi bule yang diprediksi masih SMA-kuliah sedangkan anak gunung Pepe berjemur di pantai sambil dengerin iPod. Oh, hampir lupa! Pantai ini berisi banyak Portu Amor. We really are getting used to it, btw.
Setelah tangan keriput dan badan menggigil kedinginan, kita melanjutkan perjalanan ke Kata Beach. Pantai ini lebih sepi dari Karon Beach dan pasirnya lebih halus.
Dari Kata Beach kita berencana ke Promthep Cape, yang kata Dear bagus banget buat liat sunset. Tapi karena kita tidak tahu seperti apa Promthep Cape, kita malah menemukan pantai kecil terpencil, berbatu, dan bagus yang gw ga inget namanya apa.
Perjalanan dilanjutkan dalam pencarian Promthep Cape, yang akhirnya kita temukan setelah acara nyasar. Promthep Cape ini sejenis tebing yang menghadap ke laut dan terdapat tempat sembahyang, dimana orang-orang berdoa dan memberikan persembahan berupa miniatur gajah. Yak! Sudah dapat diprediksi sejak dini dimana Nana sangat heboh begitu melihat lautan patung gajah.
Satu yang gw pelajari dari Phuket. Disini bebas biaya parkir, infrastruktur memadai, pantai bersih tanpa paksaan menyewa kursi berjemur, dan bebas pedagang asongan. Coba Indonesia berpikir seperti pemerintah Thailand, dimana keuntungan bisa diambil dari VISA negara, bukan hal remeh seperti biaya masuk pantai ataupun parkir liar. Turis datang ke suatu tempat untuk membuang uangnya, kalau mereka senang dan merasa aman serta nyaman, maka dia akan kembali lagi. Bahkan mempromosikan tempat tersebut secara tidak langsung, dan voila! VISA semakin banyak, sayang Indonesia masih belum berpikir sejauh itu.
Malamnya kita jalan-jalan di pasar malam Karon Beach Pasarnya seperti Gedebage, menjual macem-macem barang dari baju dalam, DVD bajakan, dupa, hingga lampion.
Setelah itu kita jalan-jalan dan cari makan malam di Patong Beach. Tempat ini memang sangat hip di malam hari. Semua ada, dari tempat makan, jual suvenir, bar, pub, sampai tempat penitipan suami (ini serius ada!). Setelah jalan-jalan menyusuri gang, kita menemukan pizzeria yang menarik hati (ini maksudnya murah). Setelah dikira orang Thailand oleh waitress, si pemilik pizzeria yang ternyata orang Italia asli (ganteng kalo kata Pepe) mengambil alih dan menjelaskan menunya kepada kita. Dengan 1Rp. 120.000,- kita dapet 1 pan pizza medium, 1 porsi besar pasta, garlic bread on the house, dan free cappucino. Sesampainya di Hostel kita langsung naik ke kamar karena objek bully lagi gak jaga, selain itu kita belum packing untuk berangkat ke Singapore besok pagi.
Paginya kita check out jam 7 pagi, yang menandakan front office belum buka. Check out terunik yang kita lakukan adalah dengan menulis pesan di sehelai tissue. Kedodolan terjadi saat gw meninggalkan peta di dalem sehingga kita harus berjalan keliling Phuket Town selama 1 jam sampai menemukan bus station. Flight jam 10 pagi dan kita berangkat dari station jam 8 pagi. Estimasi gw 45 menit sampe, karena pas naik taksi 30 menit. Ternyata bus tersebut tidak langsung menuju bandara melainkan keliling kota dulu. Jam 9.15 kita sampai bandara, lari-lari, buru-buru ke imigrasi, check in jam 9.25 dan dimarahin mbaknya karena terlambat, dan berlari untuk boarding, yang ternyata gate-nya belom dibuka. Kampret.
To be continued: Great Grad Trip V: Hell yeah, We are (look like) Singaporean











0 comments:
Post a Comment