Perjalanan Phuket-Singapore diwarnai dengan turbulensi yang sangat parah. Saat turbulensi terjadi gw masih asik baca buku sampe dimarahin Nana yang baru bangun buat nutup meja. Manuver pilot sudah tidak lagi naik-turun tapi kanan-kiri, lampu dimatikan, dan tanda EXIT udah nyala. Suasana di dalam pesawat sudah seperti film The Passanger. Untung pesawat mendarat denga mulus di Changi. Ketololan yang terjadi adalah orang yang marahin gw buat nutup meja ternyata tidak mengenakan seat belt sejak awal penerbangan, great Ratna Nindyarani! Untung pesawat ini kagak jatoh.
Setelah makan siang di Changi kita langsung menuju hostel di area Little India. Sesampainya di MRT, gw ditanya-tanyain gimana caranya beli tiket sama beberapa turis (bukti kita mirip Singaporean, iya ngarep!). Fern Loft Hostel yang kita tempati sungguh tidak enak, kamarnya lembap, bawahnya pub, dan terdapat stiker bertebaran. Pas mau jalan si Pepe dapet kabar bahwa nyokapnya masuk RS di Jakarta jadi memutuskan untuk stay di hostel sambil nunggu kabar. Ini menandakan gw terjebak berdua Nana mengelilingi Singapore dengan segala ketololan yang pasti terjadi.
Perjalanan diawali dengan ke Mustafa center lalu dilanjutkan ke Kallang untuk booking hostel rekomendasi backpacker yang kita temui di Phuket. Masalah muncul ketika kita gatau dimana tepatnya The Hives berada, untung ada wifi di MRT sehingga kita dapet alamatnya. Beres booking, kita lanjut jalan ke Orchard Rd., dan berdasarkan rekomendasi seorang teman kita beli kartu langganan MRT (bukti 2 kita (mirip) Singaporean). Seperti biasa gw tidak bisa menahan diri untuk beli buku di Kinokuniya (Good Omens dan American Gods) dan Nana cari sabuk buat kado ulang taun bapaknya. Abis makan di food court (tetep cari murah) kita lanjut mengobati rasa penasaran kita tentang Clarke Quay. Ketidaktahuan arah kembali menjadi masalah disini:
Nana: Ini kemana yah abis keluar stasiun?
Gw: Kagak tau tong. Tuh ada bule, kita ikutin aja! Pasti mereka menuju keramaian.
10 menit kemudian bule tersebut masuk gedung apartemen. KAMPRET~! Akhirnya kita balik arah dan bertanya pada orang yang naik sepeda di perempatan jalan.
Clarke Quay
Ternyata Clarke Quay itu seru dan hip banget. Ini kayak distrik yang isinya bar, pub, restoran, cafe, sampe night club. Banyak banget orang yang nongkrong disini, dari tua sampe bocah (sama orang tuanya). Tempat minumnya juga beragam, dari bar biasa sampe mengusung tema clinic (minuman dimasukin ke labu infus atau suntikan). Setelah berkeliling dan menikmati malam kita langsung pulang mengejar MRT terakhir.
Paginya kita langsung berangkat buat pindah hostel ke The Hives, dan gw pake acara jatoh di Little India (untung kagak ada yang kenal). Pepe berencana ketemu temennya hari ini, jadi ge kembali terjebak bersama Nana untuk pergi ke Jurong Bird park. Dibutuhkan waktu 1 jam dari Kallang menuju Boon Lay menggunakan MRT untuk lanjut naik bis ke Jurong Bird Park. Sesampainya di jurong Point ternyata terjadi insiden berdarah dimana gw harus cari pembalut dan membeli celana baru. Untungnya disini ada Guardian dan Nana sungguh tidak membantu dengan menyuruh gw beli adult diapers karena kita berdua gatau B. Inggrisnya pembalut apa (Serius kalo ada yang tau kasih tau gw), untung gw melihat seonggok pembalut di rak. Dan itu adalah pembalut termahal yang pernah gw beli (di Indonesia 12 ribu, itu 48 ribu)! Celana pendek paling murah disini 35SGD, untung gw menemukan toko yang menjual dress seharga 15SGD yang langsung gw beli. Setelah makan di Long John kita lanjut naik bis menuju Jurong Bird park.
Boon Lay Interchange Station
Jurong Bird Park sungguh keren, tertata dengan baik, dengan desain yang memukau. Mereka sampe bisa buat African waterfall park, hutan tropis, dan pantai buatan sehingga membuat taman ini sangat atraktif dan menyenangkan. Yang bikin sedih adalah koleksi burung tropisnya banyak berasal dari Indonesia, sayang Indonesia gapunya tempat kayak gini.
Setelah sore kita lanjut ke City Hall. Di bawah city Hall ini ada ruangan besar tempat seniman pertunjukan berlatih, dari street dancer, ballet, modern dancer, dan banyak lagi. Tempat ini seru banget, dan gw dipaksa ikutan nari-nari disini yang langsung gw tolak mentah-mentah. Setelah ditraktir popcorn enak (Garret, you should try it!) kita naik ke atas yang ternyata lagi ada pertunjukan musik India kontemporer. karena pengen liat pertunjukan kita jalan mundur keluar City Hall (again, untung ga ada yang kenal). Kita lanjut jalan menikmati suasana sampe Marina Bay dan brakhir dengan nongkrong disitu nunggu pertunjukan lampu jam 8 malem.
View from marina Bay
Setelah itu kita makan seafood di foodcourt bernama "Makansutra", yang menurut kita mah jauh lebih enak HDL kemana-mana dan lanjut jalan ke Bugis street. Perjalanan malam itu kembali ditutup dengan pergi ke Clarke Quay untuk menikmati malam.
Keesokan paginya kita sarapan dan menemukan cewek Perancis, cewek Belanda, serta cowok Irish yang super ganteng. Setelah check out, nitip tas di hostel (Derick baik banget), kita berangkat ke Sentosa Island. Nana heboh karena di TANGS lagi ada festival gajah dan jual patung-patung gajah artistik buatan seniman dari seluruh dunia dan gw sama Pepe asik liat-liat di National Geographic Store. Gw menemukan buku 100 Best Scared Places in The World, yang di dalamnya ada Macchu Picchu. Sungguh sayang gw udah ga ada duit. Di Sentosa kita cuman jalan-jalan ke pantai buatannya aja. Bersyukurlah Indonesia punya pantai yang sangat bagus, dan berbenahlah pemerintah untuk memfasilitasi turis seperti Singapore.
Pantai Buatan
Hokkaido Ice cream *drool
Setelah capek jalan kita makan siang dan lanjut jalan di Takashimaya mencari coklat dan gw menemukan eskrim yang enak banget.
Setelah itu kita balik ke The Hives sambil nunggu jam 7 malem untuk berangkat ke Changi. Sambil nunggu kita kenalan sama bapak-bapak dari Indonesia yang ternyata mantan anak buah om gw (dunia sempit), dan 3 orang Afrika yang semangat banget ngajak kita ngobrol. Dari obrolan itu kita tahu bahwa mereka bertiga mau ke Indonesia untuk merintis karir di duni sepak bola. Setelah berpamitan pada Derick kita pun berangkat menuju Changi untuk pulang ke tanah air.
Malang tak dapat ditolak, ketika security melihat 2 anak membawa ransel penuh sedang menunggu temannya beli tiket maka kita menjadi orang yang mencurigakan sampe kita ditanya mau kemana dan dari mana. Tapi setelah buka 1 tas kita dia langsung nyuruh kita lanjut (yaiyalah tas isinya baju doang). Sesampainya di Changi ternyata pesawat kita delay sampe jam 11 malem. Emang susah jalan-jalan pake tiket murah, kalo ga dicepetin ya dilambatin. Di pesawat kita ngobrol sama ibu-ibu Cina yang cerita kalo dia suka traveling juga, bahkan dia udah ke Jerusalem. kewl, isn't it?
After we landed, I felt so sad because this trip was going to an end. We met a lot of people. We didn't stay in fancy hotels, we didn't eat an expensive foods, we even didn't make a good plan. But those crazy things, those silliness, those stupidity really make one hell of good memories.
Thanks Nana & Pepe.
This story will remain in my heart.
See you in another adventure.
Ciao!












0 comments:
Post a Comment