Sunday, 11 December 2011

Celoteh Lamongan

Hello world!
Gw lagi ikut proyek pengadaan air siap minum di daerah pesisir dan pulau kecil Indonesia yang diadakan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan sebagai petugas Quality Control. Terdapat 3 desa di Paciran, Lamongan yang diberi bantuan alat Reverse Osmotic, yaitu Desa Weru, Tunggul, dan Sedayu Lawas.

Gw ditempatkan di Desa Tunggul. Desa kecil di PANTURA dengan jumlah penduduk yang cukup banyak dan sumber air sumur yang asin sehingga sulit untuk sumber air minum (kecuali membeli air kemasan dan memiliki sumur bor). Kawasan ini jauh dari keramaian kota (2 jam dari Kota Lamongan dan 2 jam dari Surabaya). Hiruk pikuk hanya terdapat di Pasar, Tempat Pelelangan Ikan, dan Dermaga. Mayoritas masyarakat di sini berprofesi sebagai nelayan.

Ketika gw memutuskan ikut proyek ini tidak ada dalam bayangan gw bahwa gw akan menjadi tempat curhat warga sini. Gw semacam mengikuti community service, belajar banyak tentang rasa percaya, berbagi tanpa pamrih, kerja keras, determinasi, dan percaya bahwa rezeki sudah ada jatahnya masing-masing.
Tiga anak hilang di Wisata Bahari Lamongan
Wisid Beach - Lamongan

Seperti biasa, ketololan selalu hinggap kemanapun gw pergi. Pertama, kamar mandi di rumah warga yang gw tinggali tidak ditembok full (hanya 3/4 badan) sehingga saat kita mandi kepala kita akan menyembul dari balik tembok. Selain itu letak kamar mandi berada di dapur sehingga anda akan merasa tidak nyaman ketika akan menunaikan tugas suci di pagi hari (BAB). Kedua, semua angkutan umum disini selalu menyalakan playlist dangdut PANTURA dengan volume pol mengalahkan desibel suara helikopter lepas landas. Ketiga, ketika gw lagi main di Pantai Pasir Putih gw diminta tolong fotoin 2 bocah SMA kelas 1, berhubung gw baik hati ya gw bantu foto. Setelah mereka sadar gw gabisa bahasa Jawa mereka menanyakan asal gw dari mana dan sedang apa, setelah gw jawab dan mereka lanjut berfoto tiba-tiba mereka ngajakin gw foto bareng dengan semangat (semacam ngajak foto artis ibukota). Sungguh aneh. Keempat, gw hampir gabisa pulang dari pantai karena tidak ada angkutan umum dari sana, akhirnya membayar penjaga pantai untuk mengantarkan kita.

Hikayat Desa Sebelah:
Desa Weru
"Ini baru namanya nge-bolang. Jauh dari jalan besar, beneran desa nelayan, bau ikan dimana-mana, tempat pondasi alat RO dijadiin tempat jemur ikan asin. Kamar mandi sempit, ga ada kuncinya jadi diganjel sendal jepit."

Desa Sedayu Lawas
"Rumah gw tinggal jauh dari tempat proyek. Malem-malem ada tamu laki-laki yang kata si ibunya adalah saudara, tapi langsung masuk kamar tidur di saat suami si ibu lagi di Surabaya. Terus si ibu nyuruh gw supaya ga bilang ke suaminya kalo ada tamu laki-laki. Jam setengah 5 pagi si tamu udah ga ada di rumah."

I still have 3 weeks here. I wish I could kill the boredom here. Without mall, good food, not even good beach. Well, I am so gonna make the most of it.
Good night :)

0 comments:

Post a Comment